Let it Past

Yang berlalu terkadang datang menghampiri memamerkan keindahan-keindahan masa yang tidak akan terulang, masa lalu membuatku belajar bagaimana sakitnya melepas dan perihnya sebuah penyesalan. Seperti melihatnya bahagia bersama yang lain dan aku merasa seperti tertampar oleh takdir dan menyesal tidak lagi berguna.

Mungkin salahku, dulu menganggapnya anak kecil yang tidak seperti kriteria laki-laki idaman dalam hidupku. Salahku juga begitu cepat mengambil keputusan untuk mengakhirinya, aku sadar semuanya tidak ada artinya lagi sekarang. Sempat aku melupakan semuanya tetapi perasaan itu datang kembali menghampiri kehidupanku yang saat ini sepi, meski perasaan ini salah tetapi aku bahagia dan munafikkah aku tidak menginginkan lebih?.

“Bita! Lo ngapain disitu?” Suara cempreng Dira membuatku tersentak kaget.
Dengan sedikit tergagap aku berhasil menjawab pertanyaan Dira “Oh, gue… gue lagi mikir buat pameran foto lusa” aku tidak sepenuhnya berbohong kepada Dira tentang pameran foto karena memang aku juga sedikit gugup dengan acara yang baru pertama kali akan aku lakukan.
“Tenang aja deh, lo kan dibantuin sama Aska pasti bereslah… ehem tapi hati-hati ya betinanya galak” ledek Dira. Mungkin betina yang dimaksud Dira itu pacar Aska, Keyara.
“apaan sih! Nggak usah bikin gue makin canggunglah. Semangatin kek temennya mau pameran juga malah bikin down… udah ah! Gue pergi cetak foto dulu”.

Aska, dia seperti menyembul dari masa lalu, sebuah nama yang pernah terkubur di dalam dasar hatiku. Pertama kali dia datang lagi ke kehidupanku setelah dua tahun semuanya berlalu, tadinya aku sempat berharap dia masih mencintai sama seperti sebelum aku meninggalkannya tapi kenyataan berubah sebenarnya aku sudah tahu dia tidak sendiri lagi sekarang.

Aku dan Aska dipertemukan lagi dengan cara yang tidak sengaja, kami sama-sama bergabung dengan komunitas photography yang sama dan dia sudah lebih dulu pernah mengadakan pameran bahkan pernah memenangkan beberapa kali ajang lomba foto internasional, sementara aku hanya sebagai hobi saja tidak pernah serius dan terpikir akan mengadakan pameran. Sampai hari itu aku memperlihatkan kepada Roni- yang merupakan ketua komunitas photography di kampus menyarankan agar aku mengadakan pameran bersama Aska yang akan mengadakan pameran untuk yang kedua kali. Aku sempat shock karena mendengar namanya dan aku sempat menanyakan apakah Aska yang ‘itu’ maksud Roni sebagai partner, aku tidak pernah tahu kalau aku dan Aska berada pada satu komunitas.

Hari ini Roni sudah mengatur pertemuanku dengan Aska, Roni bilang Aska akan menemuiku di taman Fakultas Teknik- fakultas Aska. Aku sudah setengah jalan dan tampak laki-laki mengenakan T-shirt navy dan sedang fokus pada laptop di hadapannya.
“Aska?” ragu-ragu aku mulai menyapa.
“Kak Bita? Apa kabar? Long time no see..” Aska sudah tidak lagi fokus dengan laptopnya dan aku sedikit janggal saat dia memanggilku dengan sebutan ‘kak’ lagi. Memang aku lebih tua satu tahun darinya, jadi wajar saja.
“iya, udah lama ya. baik kok. lo gimana? Makin terkenal aja kayanya” sebisa mungkin aku mencairkan suasana agar tidak terlalu kaku. Sebenarnya aku ingin cepat-cepat pada pokok pembicaraan.
“gitu deh, kayanya perlu bikin fanbase” dulu aku dibuatnya jatuh cinta karena sifatnya yang humoris, tetapi karena sifatnya itu juga yang membuatku harus meninggalkannya yang berakhir dengan penyesalanku.
Aku hanya tertawa saja mendengar lawakannya, “Gimana, udah lihat kan hasil foto-fotonya? Udah dipilih yang mana aja yang sesuai temanya kamu?” akhirnya aku langsung pada tujuan yang sebenarnya. Tidak munafik, saat ini aku merasa deg-degan dan telapak tanganku sedikit berkeringat.
Aska mengangguk dan memutar laptopnya menghadap kepadaku dan disana aku dapat melihat layarnya menampilkan sebuah foto yang berpanoramakan pantai dan nelayan yang berada di tengah-tengah lautnya. “yang ini gue suka, Kak Bita hebat juga”.
“thanks, tapi by the way. Gue nggak bisa lama nih soalnya ada kelas bentar lagi. Ntar kalo ada apa-apa titip pesan aja sama Roni” aku langsung pergi meninggalkan Aska, bukannya aku tidak mau berlama-lama bersama Aska tetapi perasaanku tidak enak jika terus berada di sana dan benar saja saat aku menatap ke belakang, Keyara sudah bergelayut mesra di lengan Aska.

Meskipun pameran ini hanya diselenggarakan di aula kampus tapi aku tetap saja gugup, ada rasa takut dan senang yang menjadi satu di dalam hatiku. Cukup banyak yang datang mungkin juga karena ada sebagian foto-foto milik Aska yang dipajang, aku jadi minder sendiri sekaligus malu pernah meninggalkan Aska karena alasan yang tidak logis.
“Nervous?” aku mengenali suara itu, ia sudah berdiri sempurna di sampingku. Kami sama-sama memperhatikan tamu yang berdatangan.
Aku mengangguk dan bergumam lirih “banget”
“santai aja kak, gue pertama dulu juga nervous tapi bakal teratasi dengan sendirinya kok”
“sombong” pipiku memerah dan aku tidak bisa menahan senyumku.
Aska hanya tertawa menanggapi ucapanku barusan dan tidak berkata apa-apa lagi.

Karena pameran ini menunjukkan karya-karya milik aku dan Aska, kami berdua jadi seperti pasangan yang selalu berdua. Sampai ada juga temanku yang dulunya satu SMA mengira aku dan Aska balikan tetapi aku menepisnya dengan senyuman dan berkata kami hanya partner. Bagaimanapun juga ada rasa senang yang diam-diam menyelinap masuk ke dalam lubuk hatiku melihat orang-orang mengira aku dan Aska adalah pasangan seperti dulu.

Rasa bahagiaku sejenak sirna melihat Keyara masuk dari pintu utama, pelan aku berbisik kepada Aska “Aska, pergi dulu ya please. Pergi dari sini please no question” aku setengah panik, Keyara hampir mendekati kami tapi dia belum menyadari ada Aska di sampingku.
Walaupun Aska menyadari kegelisahanku dan berkata tidak apa-apa santai saja tetapi tetap saja aku resah. Aska tidak mengerti perasaan perempuan yang punya tingkat kecemburuan diatas rata-rata seperti Keyara. Kemarin aku sempat mendengar Dira berkata kalau Keyara menggosipkan aku kecentilan dan menggoda Aska, padahal kemarin aku datang menemui Aska hanya untuk meminta bantuan masalah undangan.
Bagaimanapun juga aku tidak ingin ada masalah, meskipun memang rasa sayang untuk Aska itu ada. Aku tidak mau menjadi perusak hubungan orang, aku tahu Aska adalah mantan pacarku dulu. Aku sedikit lega saat Keyara hanya berjalan melewati kami berdua, mungkin dia tidak melihat ada Aska yang tanpa sengaja membelakangi arah datangnya Keyara karena dia sedang asik berbicara kepada Roni.

Setelah Roni pergi, Aska menatapku dan aku terdiam di tempat. “Don’t worry, we’re partner and nothing. Lagian gue udah anggap Kak Bita seperti kakak sendiri”
“Oh.” Di dalam hati, aku tidak bisa menerima kenyataan aku hanya sebatas kakak bagi Aska dan tidak lebih.

Cerpen Karangan: Retno Regrisa